Pencarian NUO

Nabi Tidak Mengenal Istilah Mayoritas dan Minoritas

Nabi Tidak Mengenal Istilah Mayoritas dan Minoritas

Nabi saw. tidak pernah memperkenalkan istilah kelompok mayoritas-minoritas (aktsariyah-akaliyah). Baik ketika ia menjadi kelompok minoritas di Mekkah maupun ketika menjadi kelompok mayoritas di Madinah.

Istilah kelompok mayoritas-minoritas muncul dalam dunia Islam, menurut Dr. Kamal Said Habib, dikenal dalam pemerintahan Dinasti Usmani (Kerajaan Ottoman) Turki ketika bersinggungan dengan beberapa kelompok masyarakat/negara yang berada di bawah kelompok protektorat negara-negara besar Eropa. Para ulama fikih, terutama empat imam mazhab  terkemuka Sunni, yaitu Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad ibn Hanbal, juga tidak memperkenalkan konsep mayoritas-minoritas. 

Hal ini bisa difahami karena dalam Islam tidak dibedakan hak antara orang-orang yang tergolong dari kelompok mayoritas maupun kelompok minoritas. Al-Qur’an mengajarkan kepada Nabi Muhammad saw. agar memperlakukan kelompok minoritas sebagai bagian dari manusia yang harus dihargai, sebagaimana ditegaskan: 

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًاࣖ

Artinya: “Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra: 70)

Apapun jenis kelamin, etnik, kewarganegaraan, dan agamanya harus mendapatkan hak-hak kemanusiaan yang sama. Lebih khusus lagi Allah swt. mendiktekan kalimat yang harus disampaikan kepada kelompok non-muslim ketka itu: 

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِࣖ 

Artinya: "Untukmu agamamu dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6)

Ada sejumlah ayat dalam Al-Qur’an dapat dimaknai kelompok minoritas dan mayoritas tetapi tidak menunjukkan adanya kelas, melainkan hanya mengkategorikan sementara untuk membedakan antara satu dengan lainnya. Di antara ayat-ayat tersebut ialah:

وَاذْكُرُوْٓا اِذْ اَنْتُمْ قَلِيْلٌ مُّسْتَضْعَفُوْنَ فِى الْاَرْضِ تَخَافُوْنَ اَنْ يَّتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَاٰوٰىكُمْ وَاَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهٖ وَرَزَقَكُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya: “Ingatlah ketika kamu (umat Islam) masih (berjumlah) sedikit lagi tertindas di bumi (Makkah). (Saat itu) kamu takut bahwa orang-orang akan menculikmu, lalu Dia memberimu tempat menetap (Madinah), menjadikanmu kuat dengan pertolongan-Nya, dan memberimu rezeki yang baik agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Anfal: 26)

Demikian pula dalam ayat: 

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: 

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya: "...Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 249)

Ayat-ayat tersebut di atas tidak mengisyaratkan kelompok mayoritas lebih istimewa daripada kelompok minoritas. Bahkan ayat kedua menunjukkan tidak tertutup kemungkinan justru kelompok minoritas akan memperoleh keutamaan jika bekerja keras dan profesional. Pembedaan kelompok atas nama jumlah di dalam Islam tidak memiliki akibat politik secara signifikan. 

Nabi saw. berkali-kali memilih opsi pendapat yang didukung minoritas ketimbang pendapat yang didukung mayoritas. Contohnya, perjanjian Hudaibiyah yang sangat monumental itu. Nabi saw. tetap memilih keyakinannya sendiri bersama sejumlah kecil sahabat  ketimbang pertimbangan sejumlah besar sahabatnya. Tegasnya, istilah mayoritas dan minoritas tidak pernah dijadikan acuan Nabi saw. di dalam menentukan kebijakan politik. 

Yang terpenting, mana di antara kelompok itu yang profesional di situlah Nabi saw. akan memihak. Sungguhpun sudah menjadi umat dan warga mayoritas di Madinah, tetap saja Nabi saw. memberi kepercayaan terhadap kelompok minoritas, sebagaimana akan dijelaskan dalam beberapa artikel mendatamg.


Artikel Terkait

Cara Rasulullah SAW Mencontohkan Toleransi Terhadap Umatnya
Pojok Nasaruddin
Cara Rasulullah SAW Mencontohkan Toleransi Terhadap Umatnya

Ternyata, Rasulullah SAW pernah melindungi, memaafkan, dan membela hak-hak non-Muslim. Fakta ini menunjukkan bahwa toleransi bukanlah konsep baru dalam Islam, melainkan teladan yang sudah dicontohkan langsung oleh Nabi sejak dahulu. Baca selengkapnya di a

Mengobati Pedihnya Ujian Hidup dengan Al-Qur’an
Pojok Nasaruddin
Mengobati Pedihnya Ujian Hidup dengan Al-Qur’an

Pernah merasa ujian hidup datang bertubi-tubi? Sudah rasanya sedih, hampa, gelisah, dan kecewa, tapi Al-Qur’an hadir sebagai petunjuk dan syifa’ yakni obat mujarab bagi jiwa kita yang terluka. Seperti apa Al-Qur’an membantu kita menghadapi semuanya? Temuk

Saat Pancasila Mengajarkan Kita untuk Berhijrah
Pojok Nasaruddin
Saat Pancasila Mengajarkan Kita untuk Berhijrah

Banyak orang mengenal Pancasila sebagai dasar negara. Namun, sedikit yang menyadari bahwa di dalamnya tersimpan semangat hijrah yang relevan hingga hari ini. Bagaimana Pancasila dapat menjadi kompas moral di tengah polarisasi, krisis nilai, dan tantangan