Pencarian NUO

Keteladanan Nabi dalam Menepati Perjanjian Damai dengan Umat Non-Muslim

Keteladanan Nabi dalam Menepati Perjanjian Damai dengan Umat Non-Muslim

Perjanjian Damai Hudaibiyah baru saja ditandatangani bersama dengan Suhail ibn Amru, pimpinan delegasi non-muslim Quraisy. Salah satu Perjanjian itu menyatakan jika umat Islam ditangkap di wilayah yang dikuasai non-muslim Quraisy maka ia harus ditahan dan kalau umat non-muslim Quraisy ditangkap maka harus segera dibebaskan ke negerinya. 

Belum bubar acara itu tiba-tiba salah seorang tawanan sahabat bernama Jandal ibn Suhail lari dari tahanan kaum Quraisy untuk meminta perlindungan Nabi Muhammad SAW. Namun, ia lebih dahulu disergap oleh Suhail dan menamparnya di depan Nabi Muhammad SAW sambil mengatakan: Lihat orangmu ini Muhammad, baru saja kita menandatangani Perjanjian Damai sudah mau kabur. Nabi Muhammad SAW menjawab: Engkau benar wahai Suhail sambil memegang pemuda itu. 

Nabi Muhammad SAW meminta pemuda itu untuk kembali ditahan demi menaati perjanjian damai tadi. Pemuda itu berteriak: Wahai umat Islam yang hadir di sini, apakah kalian rela kalau aku diserahkan ke tangan mereka? Sahabat Nabi Muhammad SAW terdiam. Nabi Muhammad SAW melanjutkan perkataannya dengan mangatakan: Wahai Abu Jandal, kembalilah dan bersabarlah, Allah SWT akan memberikan jalan keluar untukmu bersama orang-orang yang bersamamu. Kami baru saja mengadakan perjanjian damai dengan mereka, dan kami telah berjanji untuk menaati perjanjian itu dan tidak mungkin kami bisa melanggar perjanjian itu. Para sahabat terdiam menyaksikan pemandangan itu dan pasukan non-muslim Quraisy menyaksikan kuatnya komitmen Nabi Muhammad SAW terhadap apa yang telah dinyatakannya.

Nabi Muhammad SAW memberikan nasehat kepada para sahabatnya dan sekaligus kepada seluruh umatnya agar selalu menaati janji, sekalipun kepada musuh. Ia menegaskan agar umat Islam jangan munafik.  Menurut beliau,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Ciri-ciri orang munafik itu ada tiga, yaitu 1) Bila bicara ia bohong. 2) Bila berjanji ia tidak tepati. 3) Bila diberi amanah ia khianat. (HR. Bukhari-Muslim). 

Al-Qur’an juga telah memperingatkan agar orang-orang menempati janji ke dalam bentuk sebuah perumpamaan menarik, yaitu:

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّتِيْ نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ اَنْكَاثًاۗ تَتَّخِذُوْنَ اَيْمَانَكُمْ دَخَلًا ۢ بَيْنَكُمْ اَنْ تَكُوْنَ اُمَّةٌ هِيَ اَرْبٰى مِنْ اُمَّةٍۗ اِنَّمَا يَبْلُوْكُمُ اللّٰهُ بِهٖۗ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ مَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ ۝٩٢

Artinya: “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.” (Q.S. al-Nahl/16: 92).

Ayat dan hadis di atas menunjukkan betapa agungnya pribadi Nabi Muhammad SAW. Ia bisa saja membela si pemuda itu tetapi karena nilai sebuah perjanjian, maka dengan berat hati ia mengembalikan sahabatnya untuk ditahan oleh kaum Quraisy. Ayat di atas juga sangat indah melukiskan bagaimana perumpamaan orang-orang yang begitu gampang berjanji tetapi begitu gampang juga mengingkari janjinya. 

Tentu, ini pelajaran berharga buat kita semua dan Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan bahwa menepati janji itu memang memerlukan pengorbanan dan pengertian yang mendalam. Namun, setelah kita menepati janji, maka Tuhan pun tidak diam. Ia memberi berkah kepada orang-orang yang menempati janji. Tidak lama setelah peristiwa itu, orang-orang Quraisy melanggar janjinya. Akibatnya keadaan berbalik. Orang-orang non-muslim Quraisy ramai-ramai memeluk agama Islam. Tidak lama setelah itu kota Mekkah direbut kembali (Fathu Makkah) tanpa setetes darah yang mengucur.


Artikel Terkait

Celebration of Harmony: Refleksi Perjalanan Intelektual dan Karya Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA di Rukun Festival 2026
Umum
Celebration of Harmony: Refleksi Perjalanan Intelektual dan Karya Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA di Rukun Festival 2026

Dari puluhan karya hingga gagasan yang menjangkau dunia, seperti apa perjalanan intelektual Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA? Temukan cerita di balik Celebration of Harmony, malam puncak Rukun Festival 2026.

Keseruan Rukun Festival 2026: Sukses Satukan Anak Muda Merajut Harmoni di Jantung Jakarta
Umum
Keseruan Rukun Festival 2026: Sukses Satukan Anak Muda Merajut Harmoni di Jantung Jakarta

Festival yang berlangsung selama 14 jam penuh ini menghadirkan rangkaian kegiatan dalam empat sesi utama yang mencakup refleksi spiritual, dialog lintas perspektif, penguatan peran perempuan, hingga perayaan karya dan dedikasi untuk bangsa. Penasaran sepe

Pelajaran dari Nabi Muhammad SAW tentang Berbuat Baik kepada Non-Muslim
Umum
Pelajaran dari Nabi Muhammad SAW tentang Berbuat Baik kepada Non-Muslim

Rasulullah SAW tidak hanya menjamin hak-hak umat non-Muslim, tetapi juga mencontohkan kepedulian sosial kepada mereka. Beliau menjenguk orang sakit, menghormati hak-hak mereka, hingga mengajarkan umat Islam untuk berbuat adil dan penuh kasih kepada siapa