Pencarian NUO

Sukses Hadapi Ujian Kehidupan dengan Kemampuan Resiliensi

Sukses Hadapi Ujian Kehidupan dengan Kemampuan Resiliensi

Setiap dari kita pasti pernah mengalami tantangan dan kesulitan kehidupan. Ada yang diuji dengan keluarga, pekerjaan, bahkan harta dan benda. Kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan inilah yang disebut sebagai resiliensi.

Resiliensi bukan sekadar istilah bertahan, tetapi kita juga diajak untuk berkembang, bahkan bisa lebih kuat dari sebelumnya ketika melewati masa-masa yang sulit.

Sederhananya, resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bisa pulih dan lepas dari keadaan yang penuh kesulitan, kemelaratan, atau perubahan yang menuntut kita berubah secara signifikan.

Lalu, bagaimana caranya supaya kita bisa lebih resilien dalam menghadapi ujian kehidupan? Simak selengkapnya hanya di artikel ini!

Ciri-Ciri Kita Sudah Resilien

Dalam agama Islam, Allah telah menyampaikan hamba-Nya yang kuat menghadapi cobaan kehidupan sangat erat kaitannya dengan sifat bersabar melalui ciri-ciri seperti tidak mudah lemah ataupun lesu terhadap ujian yang menimpanya.

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِىٍّ قَٰتَلَ مَعَهُۥ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا۟ لِمَآ أَصَابَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا۟ وَمَا ٱسْتَكَانُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ

Artinya: "Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar." (QS. Ali Imran ayat 146).

Sedangkan, bila ditinjau secara psikologi, mengutip situs Very Well Mind, kemampuan resiliensi adalah cara untuk mengatasi kegagalan dalam kehdiupan, terutama ketika kita beraktivitas sehari-hari.

Kita dapat dikatakan resilien apabila tetap tenang saat badai kehidupan tengah menghampiri. Siapapun akan condong menggunakan keterampilan bertahan dirinya dalam mengatasi tantangan kehidupan tersebut.

Panduan Membangun Diri yang Resilien

Sebenarnya, resiliensi bukanlah sesuatu yang sulit kita pelajari. Berikut adalah panduan bagi kita untuk membangun diri yang lebih resilien:

1. Menjaga kesehatan fisik dan kesehatan mental

Salah satu cara untuk melatih resilien adalah dengan menjaga kesehatan fisik, seperti pola makan yang teratur, pola tidur yang tepat waktu, diimbangi dengan aktivitas olahraga, dan tentunya menjaga kesehatan mental dengan berusaha tidak larut terhadap permasalahan yang berujung terlalu banyak pikiran atau overthinking.

2. Berlatih teknik relaksasi

Pikiran yang rileks akan mengembangkan kemampuan resiliensi. Oleh karena itu, kita dapat berlatih teknik relaksasi. Caranya pun sederhana, seperti curhat dengan orang terdekat, melakukan hobi yang kita sukai, dan menjauhi hal-hal yang dapat men-trigger perasaan negatif.

3. Memiliki pola pikir yang terkendali

Sebelum mengenal resiliensi, kadang kita cenderung emosional saat menghadapi ujian kehidupan. Dengan pola pikir yang terkendali dan mengambil keputusan secara hati-hati, kita jauh lebih tenang mengelola stres, dan siap menghadapi beberapa kemungkinan yang bakal terjadi. 

4. Mengubah ancaman menjadi peluang

Bagaimana bisa? Caranya adalah dengan mengubah pola pikir untuk melihat tantangan sebagai peluang kita untuk belajar, mencari akar masalah, dan memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah. Setelah itu, mengubah mindset juga salah satu langkah penting demi menjadi diri yang lebih resilien.

Kesimpulan: Sampai Kapan Kita harus Berlatih Resiliensi?

Jawabannya adalah sejauh mana kita mau terus bertumbuh. Karena resiliensi bukan hanya latihan yang ketika kita merasa hidup mulai tenang, berarti sudah selesai. Ini adalah kemampuan yang terus kita asah sepanjang kita hidup.

Ada hari ketika kita kuat, ada hari ketika kita hanya mampu berjalan dengan pelan, keduanya menjadi bagian perjalanan kehdiupan. Oleh karena itu, selama kita bersedia belajar dari jatuh-bangun kehidupan, di sanalah kemampuan resiliensi terus hidup.
 


Artikel Terkait

Cara Rasulullah SAW Mencontohkan Toleransi Terhadap Umatnya
Pojok Nasaruddin
Cara Rasulullah SAW Mencontohkan Toleransi Terhadap Umatnya

Ternyata, Rasulullah SAW pernah melindungi, memaafkan, dan membela hak-hak non-Muslim. Fakta ini menunjukkan bahwa toleransi bukanlah konsep baru dalam Islam, melainkan teladan yang sudah dicontohkan langsung oleh Nabi sejak dahulu. Baca selengkapnya di a

Mengobati Pedihnya Ujian Hidup dengan Al-Qur’an
Pojok Nasaruddin
Mengobati Pedihnya Ujian Hidup dengan Al-Qur’an

Pernah merasa ujian hidup datang bertubi-tubi? Sudah rasanya sedih, hampa, gelisah, dan kecewa, tapi Al-Qur’an hadir sebagai petunjuk dan syifa’ yakni obat mujarab bagi jiwa kita yang terluka. Seperti apa Al-Qur’an membantu kita menghadapi semuanya? Temuk

Nabi Tidak Mengenal Istilah Mayoritas dan Minoritas
Pojok Nasaruddin
Nabi Tidak Mengenal Istilah Mayoritas dan Minoritas

Di tengah dunia yang sering terjebak pada label mayoritas dan minoritas, Rasulullah SAW justru mengajarkan cara pandang yang berbeda: memuliakan manusia tanpa melihat jumlahnya. Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari teladan Nabi dalam merawat kebera